RSS

Foto dan Makna

Berger berteori tentang penampakan sebuah foto. Menurut Berger (dalam Seno Gumirah Ajidarma, 2007:29), Sebuah foto menahan aliran waktu dimana peristiwa yang dipotret pernah ada. Semua foto adalah dari masa lalu, dan masa lalu itu tertahan, tak bisa melaju kemasa kini. Setiap foto menyampaikan dua pesan yaitu pesan yang menyangkut peristiwa yang dipotret, dan menyangkut sentakan diskontinuitas. Antara momen terekam dan momen kini ketika melihat foto itu, terdapat sebuah jurang. Ini membuat sebuah foto memiliki pesan kembar. Dalam aliran waktu, sebuah foto membekukan momen seolah-olah merupakan imaji yang tersimpan. Namun disini terdapat perbedaan mendasar, ketika imagi terkenang merupakan sisa pengalaman dan keberlanjutan. Sebuah foto mengisolasi sebuah keterputusan sesaat.

Padahal, dalam kehidupan makna bukanlah sesuatu seketika terjadi itu juga. Makna ditemukan dalam apa yang dihubungkan dan tidak mengada tanpa perkembangan. Fakta dan informasi tidak dalam dirinya menyusun makna. Makna adalah suatu tanggapan, bukan hanya kepada yang diketahui, tetapi juga kepada yang tidak diketahui. Makna dan misteri tidak terpisahkan, dan tidak satupun dari keduanya bisa mengada tanpa berlakunya waktu. Sebuah kesesatan terpotret, hanya mampu termaknakan ketika pemandang membacanya dalam suatu kepanjangan waktu yang melampaui kesesatan itu. Ketika kita menemukan sebuah foto bermakna, kita meminjaminya sebuah masa masa lalu dan masa depan.

Semua foto adalah mendua, semua foto dicomot keluar dari kontinuitas. Diskontinuitas selalu meproduksi kemenduan (Seno Gumirah Ajidarma, 2007: 29). Tapi meskipun mendua, apabila sebuah foto ditampilkan memakai kata-kata, mereka memproduksi bersama suatu kepastian, bahkan suatu pernyataan dogmatik. Dalam hubungan antara foto dan kata-kata, foto meminta interpretasi dan kata-kata biasanya akan memberi. Foto tak terbantahkan sebagai bukti, tapi lemah dalam makna, maka diberi makna oleh kata-kata. Adapun kata-kata, yang pada dirinya tetap berada ditingkat generalisasi, mendapat otentisitas spesifik dari ketak terbantahkan foto. Secara bersama-sama keduanya menjadi sangat berdaya, suatu pertanyaan terbuka untuk dijawab. Tapi seberapa jauh foto terumuskan oleh kata-kata.

Peristiwa memotret secara teknis mudah dimengerti, yang agak rumit adalah memaknai sifat penampakannya. Ketika seseorang memotret, pilihan atas apa yang dipotret merupakan suatu konstruksi budaya, yang terbuktikan dari apa yang tidak dipotret. Konstruksi itu merupakan pembacaan atas peristiwa, yang berlangsung secara intuitif dan berlangsung cepat sekali, memutuskan dengan segera pilihan atas objeknya. Pilihan ini akan sangat ditentukan oleh situasi sosial dan kehidupan pemotret, yang merupakan suatu argumen, suatu pengalaman, suatu menjelaskan dunia. Pada saat yang sama hubungan material antara citra dan yang direpresntasikan adalah sesuatu yang segera dan tidak terkonstruksi. Seperti sebuah jejak. Seorang fotografer bisa mengatur segalanya kecuali mencampuri proses melesatnya cahaya melewati lensa dan mencetakkan gambar pada film. Proses ini membedakan dengan proses melukis yang lebih merupakan terjemahan ketimbang suatu jejak. Jadi, terdapat dua sifat dalam penampakan foto: konstruksi budaya dan jejak (Seno Gimirah Ajidarma, 2007: 30).
Sebuah foto tidak bisa menipu, fakta ini yang digunakan untuk menipu dalam rekayasa. Penipuan dalam foto dikonstruksikan diluar kamera, dengan sebuah simbol-simbol. Tapi meskipun dinyatakan tidak bisa menipu, foto tidak bisa menyatakan kebenaran. Setidaknya ada tiga pengolongan Berger atas foto-foto:
1. untuk penelitian ilmiah, seperti dalam kedokteran, fisika, meteorologi, astronomi dan biologi.
2. Untuk informasi fotografis seperti untuk paspor atau kegiatan intelegen
3. untuk komunikasi publik, sebagai seni, maupun iklan.
(Seno Gimurah Ajidarma, 2007: 31)

Ketiga konteks ini berbeda dan kebenaran fotografis terlanjur diasumsikan berlaku untuk ketiganya. Padahal untuk kegiatan ilmiah fotografi menjadi fakta didalam kerangka konseptual, dalam sistem kontrol fakta fotografis dibatasi untuk mengesahkan indentitas dan kehadiran, sedangkan dalam minat komunikasi, sifat dari pengalaman terlibat dan kebenaran disini menjadi semakin kompleks. Maka setidaknya ada dua jenis pemanfaatan fotografis, yakni pemanfaatan ideologis, dalam hal ini ideologi positivistik yang memperlakukan foto sebagai bukti kebenaran, dan pemanfaatan pribadi yang berlaku umum. Dimana foto dirayakan untuk menggantikan perasaan seubjektif, seperti kalimat fotografer Man Ray: ”Aku memotret yang tidak ingin aku lukis, aku melukis yang tidak ingin kupotret”. Bagi yang belakangan ini disebut sebgai foto ekpresif.

Sebuah foto ekpresif adalah kutipan yang panjang dari penampakan bukan dalam pengertian waktu melainkan lebih besarnya makna yang bisa diperpanjang. Kepanjangan ini mengubah diskontinuistas menjadi keuntungan. Narasi sebuah peristiwa dipatahkan pengutipan, namun diskontinustas ini melestarikan perangkat kesesatan dari penampakan, membuat kita bisa membacanya melewati mereka untuk menemukan suatu koherensi sinkronik. Sebuah koherensi yang selain berkisah, juga menganjurkan lahirnya gagasan. Penampakan mimiliki kapasitas koherensi ini, karena mengkosntitusikan sesuatu yang mendekati bahasa. Berger menyebutnya setengah bahasa.

Setengah bahasa dari penampakan secara kontinyu menerbitkan harapan atas makna yang lebih jauh. Fotografi mengkonfirmasikan harapan ini dengan dengan cara yang dibagi-bagi, seperti banyak orang diseluruh dunia memandang foto yang sama. Kamera melengkapkan setengah bahasa dari penampakan dan mengartikulasikan makna yang tidak bisa keliru. Ketika hal ini terjadi, kita mendadak menemukan diri kita di rumah di antara penampakan-penampakan, seperti kita dirumah dengan bahasa ibu (John Berger, 1982: 83-129) . Agung Pambudhy

Disarikan dari berbagai sumber terutama dari buku seno gumirah ajidarma "kisah mata".
Silahkan jika artikel ini ingin dijadikan referensi dengan mencantumkan sumbernya. Semoga Bermanfaat.
Terima Kasih.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ibu dan Anak menjadi pengrajin gerabah lebih dari 20 Tahun

Yogyakarta, Minggu 14/6/2009. Sinar matahari yang panas menyinari kota Yogyakarta tak membuat semangat layuh. kupacu sepeda motorku membelah jalan-jalan kota Yogyakarta untuk menuju desa pengrajin keramik Kasongan, Bantul. Kurang lebih sekitar 20 Km dari pusat kota Yogyakarta kearah selatan, desa ini berada. Desa ini memang sudah cukup terkenal di Yogyakarta sebagai centra pengrajin gerabah.

Sesampai disana kulihat dua perempuan tampak serius bekerja bergulat dengan tanah liat. Bergegasku turun dari sepeda motor untuk langsung menyapa mereka "Kulonuwun Ibu". Perempuan itu pun menjawab "monggo". setelah beberapa saatku memperkenalkan diri dan memberitahu maksud kedatangaku kesana, baru kuketahui mereka adalah ibu dan anak. Tumilah (40) dan Sriatun (27) adalah seorang pengrajin keramik atau lebih sering dikenal sebagai pengrajin gerabah. Saat itu mereka sedang membuat vas bunga. Pekerjaan ini telah mereka geluti hampir 20 tahun lamanya.

Untuk membuat satu vas bunga dibutuhkan waktu sekitar 3 hari."Satu bulan kulo kalih anakku sanggup nggawe 500 vas bunga" ucap Tumilah. satu vas bunga mereka jual sekitar Rp 2.500. artinya penghasilan mereka kurang lebih 1 bulan Rp 1.250.000. "Ya lumayanlah mas untuk makan kami" lanjutnya.

Dalam membuat vas bunga mereka masih menggunakan alat tradisional dan tungku pembakaran berbahan bakar kayu. Menarik ketika melihat mereka memutar-mutar piringan dengan menggunakan kedua jempol kakinya. Sungguh kekuatan yang luar biasa bagiku memutar piringan dengan menggunakan jempol kaki. Dalam membuat 1 vas bunga paling tidak mereka harus mengerakkan jempol kakinya selama 15 menit. tak bisa kubayangkang kalau aku mencoba membuatnya bisa-bisa jempolku keram heheheh.....

Setelah jadi vas bunga mereka jual ke galeri yang ada dipinggir jalan untuk difinising dan dijual kepada para wisatawan sebesar Rp 7.500/ buah. Dimasa liburan sekolah seperti sekarang ini penjualan kerajinan keramik meningkat kurang lebih 12% dari hari-hari biasa. (Agung Pambudhy)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS